Saturday, May 02, 2009

Pengemis di serambi Tuhan
====================

Insan itu yang bernama Muhammad
Semulia mulia insan
Betapa menjadi kekasih Tuhan
Berjalannya ia dinaungi awan

Kelak di mahsyar nanti
Betapa Tuhan tidak boleh melihat Muhammad meminta
Belum pun dahi mencecah bumi
Buat bersujud memohon syafaat
Sudah diperintahkan bangun oleh Tuhan
Kerana doanya telah dimakbulkan

Itulah insan bernama Muhammad
Namun sehebat-hebat Muhammad
Kekasih Tuhan diangkat kelangit
Betapa sebelum mengadap-Nya
Hati dibedah dan dibasuh cuci

Dan nah, ini aku
seorang pengemis di serambi Tuhan
Mengemis barang sisa-sisa redhanya
Apakah kusangka dapat ku mengadap Tuhan
tanpa hati ini dicuci dengan ujian

Sinis sungguh
Apabila hati Muhammad hanya perlu dibasuh dengan air
Dan sucilah ia
Sedangkan hati ku ini
Sudah bergunung ujian Ilahi
Namun sudah resmi pengemis hina
Sesudah diuji begini pon masih tak layak adanya

Wahai Tuhan yang punya segala
Tidaklah ku pantas meminta duduk disebelah kekasih-Mu
Cukuplah, kalau dapat ku rasa barang sisa-sisa dari redha-Mu
Cukuplah, kalau sesekali, dari celah hidupku
yang masih belum suci dengan ujian-Mu
Dapat ku intai, barang kerdip-kerdip dari syurga-Mu

Saturday, December 06, 2008

Ini rasanya hati yang berkecai
=====================

Mungkin ini rasanya
Bila hati mula berkecai
Sudah berpurnama retak nya menjalar
Aku masih tidak percaya
Sampailah luluh kepingan hati, bersama air mata

Baru ku sedar hati ini sudah mula hancur
Baru ku rasa betapa sesaknya dada ini
Baru ku endah, sejuknya pipi dek air mata yang pergi

Namun sudah terlambat, hati ini sudah berkecai
Mana mungkin ku ulang masa yang lalu
Betapa dekat itu tak bermakna sampai
Betapa wangi itu mungkin akhirnya layu

Inilah aku wahai Tuhan
Berlutut di medan ini
Menerima kekalahan yang mungkin selayaknya untukku
Betapa aku tak mampu lagi
Menahan barang sakit dan duka di hati ini
Betapa disebalik segala kekuatan ku dan segala pengharapanku
Bak gula sesudu,
Cuba memaniskan selautan air dari takdir-Mu
Ah, betapa baru ku faham
Aku memang tak mampu dari mulanya lagi
Dan semua ini tidak lain dari Engkau menunjukkan kedaulatan kuasa-Mu ke atas ku
Yang cuma mampu menangisi hati yang hancur ini

Wahai Tuhan yang punya setiap kudrat dalam diri ini
Betapa aku sedar, aku cuma kain buruk menanti hari
Kalau kesimpang-kesimpanglah aku
Ku pohon pengampunan-Mu dari kelemahan diri ini
Mungkin tak layak untuk aku memiliki hati ini

Thursday, November 06, 2008

Lautan api
========

Keluk-keluk sungai deras ini sudah jadi biasa
Bau darah dan air mata yang bertatah di tebing-tebingnya
Sudah jadi alpa di mata
Batu-batu tajam menusuk meluka tiap inci kaki kecil ini
Sudah tidak terasa lagi

Sudah bertahun rasanya aku lalui sungai perit ini
Sehari demi sehari memandang sayup-sayup ke hadapan
Rasa-rasanya muara sungai sudah pun sampai.
Dapatlah aku berehat buat seketika
Buat mengukir barang seutas senyum
Buat meneguk barang secakir tenang

Tiba nya aku ke muara
Baru ku sedar lautan api yang ganas sedang menanti
Bahang nya mencair segala mimpi
Bukan lagi sekadar arus deras sebuah sungai usang
Kini ombak menggunung perlu bertatahkan api

Apalah sangat luka-luka kecil di kaki,
Sedangkan lautan ini, mungkin patah riuk tulang belulang ku nanti

Tersipuh aku di pantai berdarah
Tak mampu lagi aku berdiri,
Segagah-gagah sang diri ini, mampukah ku harungi lautan berduri?

Wahai Tuhan yang punya simpati
Sudah penat hamba-Mu berlari, ke kiri ke kanan mencari erti
Tapi hamba-Mu ini lemah dan kerdil, tiada lagi kudrat di tangan, tiada lagi tenaga di kaki
Tuhan, hamba-Mu penat, berjuang tiada henti-henti,
dari sungai darah ke lautan api.

Wahai Tuhan,
tidaklah layak diri ini memohon dari-Mu
Yang punya Keagungan dari segala Keagungan
Yang punya Kehebatan dari segala kehebatan
Sedangkan yang ingin kupersembahkan hanyalah sekeping hati kotor, usang, lusuh bersawangkan dosa, terkulai berbalut sepi

Namun Tuhan, bahang lautan ganas ini tak mampu ku tahan lagi
Apakah kiranya ada barang perca dari simpati
Tidaklah ku minta agar kau belah lautan ini seperti kau belah laut merah buat seorang Nabi
Mungkin cukup agar kau teguhkan hati ini,
agar, jika terbakar pun kulit dan tulang belulang, biarlah hatiku teguh berdiri
Mungkin dengan berkat kasih sayang-Mu, akan hanyut juga ia ke pantai hakiki

Monday, September 29, 2008

Salju Lebaran

Tika lebaran ini
mengapa saljunya lebih dingin?
Mengapa anginnya lebih mencengkam?
Mengapa hawanya lebih pedih?

Mungkin kerana, tika ini
Saljunya bernama rindu
Anginnya bernama sepi
Hawanya bernama sunyi

Lalu aku berteleku di permaidani empat wajah ini
Bersama simfoni takbir
Ku anyam jejurai mimpi
Ku sulam lebaran cita
Ku pintal bebenang sabar

Agar dapat ku hampar selimut ketabahan
Buat menghangat jiwa sunyi ini
Buat menahan dingin salju rindu
Buat memanas diri dari hawa sunyi

Akan aku tetap di sini, kerana di sini
ada takar perlu di si
ada janji perlu di kota
ada maruah perlu di bela

Sunday, March 09, 2008

The first Monday after The Revolution

Call it the Malaysian revolution if you prefer but what happen last weekend was no

nonsense. It defines the very fabric of being a Malaysian. Here's a few of my take on

the election:

Have we really transend the racial barrier?

Johor is an Umno stronghold, not even when the whole Reformasi thing was every

Malaysian's favorite 'teh tarik topic' did the opposition manage to set a foot in

Johor, yet this time around, Pas actually scores 2 seats... let me say that again

just in case you missed it, Pas scored 2 seats!. I mean, I'm not that astonished if

DAP won any seat in Johor since the Chinese and Indian community are probably voting

for them, but Pas? Voting for Pas for the typical Malay Johorean is almost equivalent

of throwing your children to tigers and yet Pas won 2 seats, I suspect the Chinese

and Indian actually voted for Pas.

The same thing happen in Penang. No matter how bad the government is, Penang will

always stay loyal to BN and yet this time around DAP manage to wrestle Penang. I'm

sure that many of the Penang Malays actually voted for DAP.

In previous election, the races are always posed againts each other. When the Anwar

debacle was at its height, BN urge the Chineses and Indians to support them lest

there'll be people cutting off hands on every street corner in the country. When the

Chineses were all worked up on the Chinese schools matter, the Malays are urged to

vote for BN lest their children will be slaves to the Chinese masters and no Malay

will ever set foot in a University again.

And yet... and yet, this time around, while the fear-monggering still smell as badly

as before, it is mostly ignored. Have we, as a nation, moved away from fearing each

other and starting to leverage each other's strength instead? I can't say, but this

is really a move in the right direction if anything.


Pas and its Islamic agenda

To Pas: one word come to mind when talking about the Islamic agenda: Prioritise!.

Islam promotes values which are acceptable to all and I'm sure a lot of my non-Muslim

friends would cringe if people start cutting hands left and right. [And BTW, Islam

does not advocate cutting off hands left and right, everything must be done through a

court of justice and the guilty must be guilty "beyond ANY doubt", not just "beyond

reasonable doubt"]. So, as starters please propagate the Islamic values first. I'm

sure with values and good governance alone, Pas has a lot to implement. In my

opinion, Pas' Islamic agenda should start with these:

1) Be humble and honest to people, be greatful to God

2) Freedom and transparency

3) Let experts run things they are expert in [There was a hadith that says - Give
responsibility to those who are experts in it]- (I.E. don't let a politician run a University)

These three values alone would keep Pas busy until the next election. And don't ever

do anything radical (like publishing another ISD) before getting consent from the

people who elected you in the first place.

All the best to Malaysians

Sunday, February 10, 2008

Terkenang aku
[Please listen to the music on the right when reading this poem]

Terkenang aku,
Seorang insan bernama Yahya,
Ketika ia melarikan diri
Lalu bersembunyi di dalam pohon kayu
Betapa zalim nya manusia yg pantas membelah pohon kayu itu
Ketika mata gergaji mula mengena kepala Yahya
Tidak dia berganjak walau seinci pun
Betapa tabahnya hati seorang insan bernama Yahya

Terkenang aku,
Seorang insan bernama Ibrahim
Sesudah ditinggalkan anak tersayang
Kehausan dipadang pasir
Nah hari ini mesti Ibrahim menyembelih pula sang anak ini
Namun tidak pernah Ibrahim berpatah balik
Kalau tidak kerana Jibril yang menghentikannya
sudah tentu tumpah ke tanah darah Ismail
Betapa kagumnya aku dengan Ibrahim

Terkenang aku,
Seorang wanita bernama Maryam
Ketika tidak jemu-jemu dia sujud pada Tuhannya
Nah, mengandung ia seorang anak
Tak pernah Maryam mengeluh akan takdir Tuhan ini
Biar pun jerih perih di hina kanan dan kiri
Betapa Ilahi itu Maha Pembela hamba-hamba-Nya
Bayi yang kecil ini berkata-kata menyebelahi ibu yang tak berdosa
Salam ku kepada Maryam dan bayinya

Terkenang aku,
Seorang insan bernama Muhammad
Betapa dia hanya seorang insan,
Mengalir darahnya apabila dipungkang dengan batu-batuan
Nah datang Jibril menjanjikan bantuan
Akan diruntuh gunung-ganang agar tenggelam bumi Taif
Namun tenangnya Muhammad menghalang
Moga di masa hadapan penduduk Taif disapa keimananan

Terkenang aku,
Seorang insan bernama aku
Tak pernah istiqamah dengan sabar
Tak pernah bersungguh dengan syukur
Tak pernah tahan dengan tawakal
Tak pernah sunyi dari megeluh takdir-Mu
Tak pernah lama dengan mengigat-Mu
Ku tahu wahai Tuhan, mana mungkin tabah ku setabahnya Yahya
Mana mungkin hati ku seteguhnya Ibrahim, mana mungkin redha ku seredhanya Maryam,
Mana mungkin tenang ku setenangnya Muhammad

Aku cuma insan biasa
Punya salah tak terbilang-bilang banyaknya
Sabar ku, syukur ku, tabah ku, tawakal ku, tenang ku
Tak terjejak pun barang seinci dari tingginya mereka
Kalau mereka berhimpun atas teratak keredhaan-Mu
Mana mungkin layak diri hamba-Mu yang miskin jijik dan kotor ini
Datang mengemis barang sisa-sisa diserambi yang sama

Ku tahu aku cuma pengemis
Namun Tuhan
Hati pengemis ini terkadang terasa juga sunyinya
Perasaan pengemis ini terkadang terguris jua
Tubuh kerdil pengemis ini terkadang bergetar menahan dingin

Wahai Tuhan,
Aku bersimpuh merayu dihujung-hujung sifat penyayang-Mu
Walaupun jauh hamba-Mu ini dari layak walaupun sebagai pengemis
Ku pohon barang sehirup dari sisa-sisa keampunan-Mu
Ku pinta sericis dari perca-perca rahmat-Mu
Buat aku berteduh diri ketika ribut
Buat teman ketika ajal memanggil pulang

Monday, February 04, 2008

Temankan lah aku
[Please play the music on the right while reading this poem]

Mengalirnya darah masih tak kurang
Nafas ku terasa semakin hilang,
Jantungku semakin berdebar kencang
Ku pejamkan mata mencari tenang
Rupanya seribu lagi musuh mendatang
Wahai Tuhan, bagaimana mungkin ku akan menang?
Dicelah-celah air mata yang berlinang
Kupinta pada-Mu, temankan lah aku

Temankan lah aku
seperti mana kau temankan Ayub
Ketika bertalu-taku ujian-Mu membalun diri
Agar sabarku seberat barang secubit dari sabarnya

Temankan lah aku
Seperti mana kau temankan Musa
Ketika dihadapannya lautan dan dibelakangnya bala tentera
Moga kau bukakan lautan derita yang kini dihadapanku
Seperti kau bukakan laut merah untuknya

Temankan lah aku
Seperti mana kau temankan Muhammad
Ketika Khadijah pergi buat selamanya
Seperti mana kau bukakan langit Mi'raj untuknya
Maka buka kan lah wahai Tuhan
Barang barang cebis-cebis dari langit-Mu
Buat ku intai betapa agungnya kerajaan-Mu
Baru ku sedar diri ini selayak habuk kerdil lagi kotor

Baru aku tahu Tuhan
Betapa tidak lah layak kupinta
Untuk kau menemani ku
Berkarang bergunung dosa hamba-Mu
Layakkah aku ditemani-Mu wahai Tuhan?

Selayaknya,
Engkau menemani hamba-Mu seperti Ayub, Musa dan Muhammad
Betapa mereka nun jauh dipuncak sana
Sedangkan aku, masih mendaki gunung redha-Mu
Entah kesekiankalinya wahai Tuhan, aku jatuh berguling luka berdarah

Namun, malam yang dingin ini
Ku anyam seurat doa, sehelai sesal
Buat aku melapik tidurku
Moga sesampai fajar esok akan ku cuba lagi mendaki gunung redha-Mu
Moga, sesampainya aku dipuncak...
Sudilah engkau wahai Tuhan, menemankan seburuk-buruk hamba-Mu ini

Wednesday, January 23, 2008

Nothing short of a miracle

Have I prayed? Yes, oh God, I have prayed
Do I really think this can work? Probably not, at least not in this life
Do I know this is crazy? Yes i do
Am I crazy? Maybe
Am I stupid? Definitely not
Do I want to follow my heart? Yes, oh God, yes
Should I? I just can't
Should I give up? Probably
Can I give up? I can't, I just don't let me
Is this painful? Hell yes,
Then why don't I stop? Because I'm still breathing
Then, what do I expect? I guess, nothing short of a miracle
Why all this trouble? Because I'm human, I breath, I feel, I smile and I cry