Monday, September 29, 2008

Salju Lebaran

Tika lebaran ini
mengapa saljunya lebih dingin?
Mengapa anginnya lebih mencengkam?
Mengapa hawanya lebih pedih?

Mungkin kerana, tika ini
Saljunya bernama rindu
Anginnya bernama sepi
Hawanya bernama sunyi

Lalu aku berteleku di permaidani empat wajah ini
Bersama simfoni takbir
Ku anyam jejurai mimpi
Ku sulam lebaran cita
Ku pintal bebenang sabar

Agar dapat ku hampar selimut ketabahan
Buat menghangat jiwa sunyi ini
Buat menahan dingin salju rindu
Buat memanas diri dari hawa sunyi

Akan aku tetap di sini, kerana di sini
ada takar perlu di si
ada janji perlu di kota
ada maruah perlu di bela

Sunday, March 09, 2008

The first Monday after The Revolution

Call it the Malaysian revolution if you prefer but what happen last weekend was no

nonsense. It defines the very fabric of being a Malaysian. Here's a few of my take on

the election:

Have we really transend the racial barrier?

Johor is an Umno stronghold, not even when the whole Reformasi thing was every

Malaysian's favorite 'teh tarik topic' did the opposition manage to set a foot in

Johor, yet this time around, Pas actually scores 2 seats... let me say that again

just in case you missed it, Pas scored 2 seats!. I mean, I'm not that astonished if

DAP won any seat in Johor since the Chinese and Indian community are probably voting

for them, but Pas? Voting for Pas for the typical Malay Johorean is almost equivalent

of throwing your children to tigers and yet Pas won 2 seats, I suspect the Chinese

and Indian actually voted for Pas.

The same thing happen in Penang. No matter how bad the government is, Penang will

always stay loyal to BN and yet this time around DAP manage to wrestle Penang. I'm

sure that many of the Penang Malays actually voted for DAP.

In previous election, the races are always posed againts each other. When the Anwar

debacle was at its height, BN urge the Chineses and Indians to support them lest

there'll be people cutting off hands on every street corner in the country. When the

Chineses were all worked up on the Chinese schools matter, the Malays are urged to

vote for BN lest their children will be slaves to the Chinese masters and no Malay

will ever set foot in a University again.

And yet... and yet, this time around, while the fear-monggering still smell as badly

as before, it is mostly ignored. Have we, as a nation, moved away from fearing each

other and starting to leverage each other's strength instead? I can't say, but this

is really a move in the right direction if anything.


Pas and its Islamic agenda

To Pas: one word come to mind when talking about the Islamic agenda: Prioritise!.

Islam promotes values which are acceptable to all and I'm sure a lot of my non-Muslim

friends would cringe if people start cutting hands left and right. [And BTW, Islam

does not advocate cutting off hands left and right, everything must be done through a

court of justice and the guilty must be guilty "beyond ANY doubt", not just "beyond

reasonable doubt"]. So, as starters please propagate the Islamic values first. I'm

sure with values and good governance alone, Pas has a lot to implement. In my

opinion, Pas' Islamic agenda should start with these:

1) Be humble and honest to people, be greatful to God

2) Freedom and transparency

3) Let experts run things they are expert in [There was a hadith that says - Give
responsibility to those who are experts in it]- (I.E. don't let a politician run a University)

These three values alone would keep Pas busy until the next election. And don't ever

do anything radical (like publishing another ISD) before getting consent from the

people who elected you in the first place.

All the best to Malaysians

Sunday, February 10, 2008

Terkenang aku
[Please listen to the music on the right when reading this poem]

Terkenang aku,
Seorang insan bernama Yahya,
Ketika ia melarikan diri
Lalu bersembunyi di dalam pohon kayu
Betapa zalim nya manusia yg pantas membelah pohon kayu itu
Ketika mata gergaji mula mengena kepala Yahya
Tidak dia berganjak walau seinci pun
Betapa tabahnya hati seorang insan bernama Yahya

Terkenang aku,
Seorang insan bernama Ibrahim
Sesudah ditinggalkan anak tersayang
Kehausan dipadang pasir
Nah hari ini mesti Ibrahim menyembelih pula sang anak ini
Namun tidak pernah Ibrahim berpatah balik
Kalau tidak kerana Jibril yang menghentikannya
sudah tentu tumpah ke tanah darah Ismail
Betapa kagumnya aku dengan Ibrahim

Terkenang aku,
Seorang wanita bernama Maryam
Ketika tidak jemu-jemu dia sujud pada Tuhannya
Nah, mengandung ia seorang anak
Tak pernah Maryam mengeluh akan takdir Tuhan ini
Biar pun jerih perih di hina kanan dan kiri
Betapa Ilahi itu Maha Pembela hamba-hamba-Nya
Bayi yang kecil ini berkata-kata menyebelahi ibu yang tak berdosa
Salam ku kepada Maryam dan bayinya

Terkenang aku,
Seorang insan bernama Muhammad
Betapa dia hanya seorang insan,
Mengalir darahnya apabila dipungkang dengan batu-batuan
Nah datang Jibril menjanjikan bantuan
Akan diruntuh gunung-ganang agar tenggelam bumi Taif
Namun tenangnya Muhammad menghalang
Moga di masa hadapan penduduk Taif disapa keimananan

Terkenang aku,
Seorang insan bernama aku
Tak pernah istiqamah dengan sabar
Tak pernah bersungguh dengan syukur
Tak pernah tahan dengan tawakal
Tak pernah sunyi dari megeluh takdir-Mu
Tak pernah lama dengan mengigat-Mu
Ku tahu wahai Tuhan, mana mungkin tabah ku setabahnya Yahya
Mana mungkin hati ku seteguhnya Ibrahim, mana mungkin redha ku seredhanya Maryam,
Mana mungkin tenang ku setenangnya Muhammad

Aku cuma insan biasa
Punya salah tak terbilang-bilang banyaknya
Sabar ku, syukur ku, tabah ku, tawakal ku, tenang ku
Tak terjejak pun barang seinci dari tingginya mereka
Kalau mereka berhimpun atas teratak keredhaan-Mu
Mana mungkin layak diri hamba-Mu yang miskin jijik dan kotor ini
Datang mengemis barang sisa-sisa diserambi yang sama

Ku tahu aku cuma pengemis
Namun Tuhan
Hati pengemis ini terkadang terasa juga sunyinya
Perasaan pengemis ini terkadang terguris jua
Tubuh kerdil pengemis ini terkadang bergetar menahan dingin

Wahai Tuhan,
Aku bersimpuh merayu dihujung-hujung sifat penyayang-Mu
Walaupun jauh hamba-Mu ini dari layak walaupun sebagai pengemis
Ku pohon barang sehirup dari sisa-sisa keampunan-Mu
Ku pinta sericis dari perca-perca rahmat-Mu
Buat aku berteduh diri ketika ribut
Buat teman ketika ajal memanggil pulang

Monday, February 04, 2008

Temankan lah aku
[Please play the music on the right while reading this poem]

Mengalirnya darah masih tak kurang
Nafas ku terasa semakin hilang,
Jantungku semakin berdebar kencang
Ku pejamkan mata mencari tenang
Rupanya seribu lagi musuh mendatang
Wahai Tuhan, bagaimana mungkin ku akan menang?
Dicelah-celah air mata yang berlinang
Kupinta pada-Mu, temankan lah aku

Temankan lah aku
seperti mana kau temankan Ayub
Ketika bertalu-taku ujian-Mu membalun diri
Agar sabarku seberat barang secubit dari sabarnya

Temankan lah aku
Seperti mana kau temankan Musa
Ketika dihadapannya lautan dan dibelakangnya bala tentera
Moga kau bukakan lautan derita yang kini dihadapanku
Seperti kau bukakan laut merah untuknya

Temankan lah aku
Seperti mana kau temankan Muhammad
Ketika Khadijah pergi buat selamanya
Seperti mana kau bukakan langit Mi'raj untuknya
Maka buka kan lah wahai Tuhan
Barang barang cebis-cebis dari langit-Mu
Buat ku intai betapa agungnya kerajaan-Mu
Baru ku sedar diri ini selayak habuk kerdil lagi kotor

Baru aku tahu Tuhan
Betapa tidak lah layak kupinta
Untuk kau menemani ku
Berkarang bergunung dosa hamba-Mu
Layakkah aku ditemani-Mu wahai Tuhan?

Selayaknya,
Engkau menemani hamba-Mu seperti Ayub, Musa dan Muhammad
Betapa mereka nun jauh dipuncak sana
Sedangkan aku, masih mendaki gunung redha-Mu
Entah kesekiankalinya wahai Tuhan, aku jatuh berguling luka berdarah

Namun, malam yang dingin ini
Ku anyam seurat doa, sehelai sesal
Buat aku melapik tidurku
Moga sesampai fajar esok akan ku cuba lagi mendaki gunung redha-Mu
Moga, sesampainya aku dipuncak...
Sudilah engkau wahai Tuhan, menemankan seburuk-buruk hamba-Mu ini

Wednesday, January 23, 2008

Nothing short of a miracle

Have I prayed? Yes, oh God, I have prayed
Do I really think this can work? Probably not, at least not in this life
Do I know this is crazy? Yes i do
Am I crazy? Maybe
Am I stupid? Definitely not
Do I want to follow my heart? Yes, oh God, yes
Should I? I just can't
Should I give up? Probably
Can I give up? I can't, I just don't let me
Is this painful? Hell yes,
Then why don't I stop? Because I'm still breathing
Then, what do I expect? I guess, nothing short of a miracle
Why all this trouble? Because I'm human, I breath, I feel, I smile and I cry

Monday, January 21, 2008

Aku cuma insan biasa

Aku cuma insan biasa
Bukan tentera gagah perkasa
Menanti musuh tak pernah putus asa
Walau harapan hampir tiada

Aku cuma insan biasa
Terkadang hati kecil ini terasa
Apakah yang kurang perlu dipinta?
Tak cukupkah sebuah senyum sedulang makna?

Aku cuma insan biasa
Punya batasan, punya air mata
Punya perasaan kekadang tak terkata
Punya hati yang boleh diluka

Aku cuma insan biasa
Tak pernah kuharap intan permata
Cuma secicip endah pembalut duka
Cuma selayang sayang pengakhir derita

Friday, January 18, 2008

Aku sedia

Wahai Tuhan,
Kenal sangat aku kelibat ujian-Mu
Aku tahu ia datang untuk mengukuhkan iman ku yang kian layu
Namun ujian kali ini hancur luluh perit berdarah hati ku kernanya

Wahai Tuhan,
Jika mesti Kau retakkan hatiku
Ku pinta agar Kau tunggu sebentar,
Biar ku pejamkan mata ini sekuat-kuatnya
Biar ku genggam tangan ini seerat-eratnya
Biar ku gentas bibir ini menahan bisa
Nah Tuhan, aku telah sedia
Hancurkan lah hatiku selumat-lumatnya

Thursday, January 10, 2008

Sang Musim Salju

Wahai unggas sang musim salju
Dalam perjalanan mu mencari musim panas
Apatah sudi kau bawa sekali jerih perih di hati ku ini
Buang ia sejauh mungkin,
Jatuhkan ia ditengah lautan
Atau tinggalkan sahaja diperjalanan

Wahai dingin sang musim salju
Sedingin dingin dirimu
Beku dan retak lautan kerna saapan mu
Tahukah kau, dingin lagi sunyi di jiwa ku ini
Terkadang terjatuh aku melutut ke bumi
Kerna retak beku sebuah hati

Wahai Tuhan sang musim salju
Kau lah yang memiliki unggas dan dingin
Kau lah yang mentakdirkan sunyi jerih dan pedih
Di bumi sang musim salju ini Tuhan
Tak pernah jemu aku memohon
Tak pernah penat ku tahan tangis
Biar sang musim salju ini bagai tak mungkin reda
Walaupun mungkin ku rebah diganyang angin ribut dingin
Tempang luka berdarah di kunyah serigala salju
Hatiku sentiasa akan panas,
Kerna ku tahu janji-Mu
Kerna ku kenal kasih-Mu
Walaupun jauh hati hamba-Mu ini dari layak menerima
Sentiasa akan ku mengemis, barang seperca dari sayang-Mu